Benda Yang Tersembunyi Di Alam Ghaib

Artikel » Benda Yang Tersembunyi Di Alam Ghaib

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya sebulan menjelang bulan puasa Ramadhan (bulan Ruwah). Ki Sabrang Alam bersama beberapa sahabat berziarah ke petilasan Ki Jaya Kusuma di puncak Gunung Kendhil, letaknya kira-kira di sebelah barat Gunung Muria, Kabupaten Kudus. Ki Jaya Kusuma sendiri adalah seorang pertapa zaman Majapahit, pada saat masa kekuasaan Hayam Wuruk. Kesaktiannya tak diragukan lagi. Tetapi beliau tak banyak diketahui khalayak sebab beliau selalu menghindari keramaian. Beliau lebih suka menyepi di tempat yang banyak memiliki energi alami. Menyatu dengan alam dan melakukan banyak perenungan batin.

 

Lokasi Gunung Kendil ini tak banyak orang yang tahu benar tepatnya. Hanya beberapa masyarakat yang pernah mendapat petunjuk batin yang tahu lokasi ini. Oleh masyarakat sekitar pun semula tak begitu paham jika puncak gunung tersebut ada tempat keramat yang kaya energi mistis. Untuk mencapai petilasan tersebut rombongan harus melewati jalan menanjak yang curam. Meski jalannya telah teraspal tetapi ada beberapa bagian jalan yang berlubang. Ada pula bagian jalan yang rusak begitu parah.

 

Perjalanan rombongan dimulai pukul 15.00 dari rumah salah seorang teman. dari kaki gunung langit tampak begitu cerah. Tak ada tanda-tanda akan adanya hujan atau cuaca buruk lainnya. Keadaan tersebut bertolak belakang ketika rombongan sudah menjejak di desa paling atas dari gunung Kendil tersebut. Rombongan pun singgah sementara di rumah juru kunci atau pelawangan. Beliau adalah Pak Geni. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Beliau adalah keturunan pelawangan sebelumnya yang dipasrahi tempat petilasan tersebut.  

 

Sebagai seorang tamu, maka tak enak jika rombongan langsung menuju petilasan. Berada di lingkungan masyarakat Jawa unggah-ungguh harus selalu diterapkan. Walaupun tempat atau rumah yang akan dikunjungi adalah tempat astral. Kepada beliau, Ki Sabrang Alam mengungkapkan maksud sebenarnya hendak menuju petilasan tersebut. Pak Geni dengan amat senang hati menerima kedatangan rombongan dan paham benar maksud dan tujuan Ki Sabrang Alam.

 

Pukul 16.30 tim akhirnya memohon diri untuk langsung menuju ke puncak. Pak Geni pun dengan berbaik hati menemani rombongan menuju ke puncak. Beliau juga membawakan dua buah tikar besar jikalau kami hendak beristirahat nanti malam. Rombongan dengan senang hati menerima kebaikan Pak Geni. Sebelum naik ke puncak pun tim diingatkan Pak Geni untuk membawa beberapa dirigen air sebab di puncak sangat jauh dari sumber mata air.

 

Menuju ke puncak gunung Kendil ternyata tak semudah yang dibayangkan. Beberapa kali salah satu rombongan ada yang terpeleset oleh jalan yang licin. Guyuran hujan ternyata membuat jalan tanah yang bergelombang menjadi sangat licin untuk dilalui. Meski jalan yang dilalui sudah tampak begitu tertata tidak seperti jalan di jalur pendakian lainnya. Agaknya jalan yang dilalui oleh rombongan ini memang sengaja ditata baik oleh warga sekitar sebab itu adalah satu-satunya akses di perkebunan kopi.

 

Di tengah perjalanan, tim menikmati pemandangan kota Kudus yang bisa disaksikan langsung dari jalan setapak yang dilalui. Pak Geni pun banyak bercerita mengenai banyak hal. Tentang sejarah petilasan Ki Jaya Kusuma ini. Meski di kalangan kota sekitar begitu sedikit yang tahu petilasan ini. Ternyata ada pula orang-orang yang datang dari Pulau seberang semisal Sumatra, Madura, bahkan ada yang datang dari Manokwari. Begitu beliau menuturkan.

 

Kebanyakan orang-orang yang datang ke petilasan ini adalah orang-orang yang secara khusus mendapatkan sebuah petunjuk untuk datang langsung ke petilasan ki Jaya Kusuma ini. Pak Geni menuturkan, rata-rata orang yang berziarah adalah orang-orang yang ingin mendapat kelancaran dalam berwirausaha, masalah perjodohan, dan kesembuhan. Namun yang paling sering adalah para pejabat yang ingin segera naik pangkat.  

 

Beliau juga menuturkan, pernah suatu kali ada orang dari daerah Kuningan, Jawa Barat, yang mencari-cari dimana lokasi gunung Kendil ini. Asal mulanya ia mendapati mimpi untuk mengunjungi suatu tempat yang bernama Gunung Kendil di kawasan Jawa Tengah. Ia sempat mengunjung Gunung yang bernama persis dengan Gunung Kendil di daerah Kudus ini, yaitu di daerah Yogyakarta. Akan tetapi, tempat yang ia kunjungi itu bukanlah tempat yang sesuai dengan petunjuk gai yang diterimanya. Maka pergilah ia ke daerah Jawa Tengah. Ia sempat juga singgah di Gunung Tidar (Magelang), dan Gunung Sindoro-Sumbing (Temanggung). Tempat terakhir yang ia kunjungi yaitu gunung Muria (Kudus). Oleh seorang warga di lereng Muria, ia ditunjukkan di mana lokasi Gunung Kendil yang ia cari berada. Setelah pencarian panjang itu akhirnya ia menemukan lokasi Gunung Kendil yang ia cari.

 

Pak Geni juga mengungkapkan bahwa Gunung Kendil juga dikenal sebagai petilasan Semar. Tokoh pewayangan yang bertubuh tambun pendek.  Banyak sekali benda-benda mistis yang ada di petilasan ini. Salah satunya adalah Mustika Ki Badranaya. Mustika ini dulunya adalah milik Gajah Mada. Patih Mandraguna yang dikenal dengan sumpah Palapa-nya. Siapa pun yang memiliki mustika ini maka kharismanya akan terlihat luar biasa. Disegani banyak orang. Orang yang hendak berbuat jahat akan berubah pikiran menjadi sayang kepada orang yang memiliki mustika ini.

 

Mustika ini pernah dimiliki oleh Bupati Wilatikta, ayahanda dari Raden Sahid atau yang dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga. Pernah juga berpindah ke tangan Ratu Kalinyamat, penguasa perempuan yang juga dikenal sebagai Panglima perang ketika nusantara diserang Portugis. Hingga saat Pak Geni menuturkan cerita tersebut, mustika itu masih berada di kawasan Gunung Kendil. Orang yang terakhir kali memiliki mustika itu adalah kakeknya. Salah seorang pelawangan tersebut yang juga seorang kepala desa pada masanya hingga beliau wafat.

 

Setelah sang kakek wafat, mustika itu entah hilang kemana. Pak Geni pernah melihat sekali bentuk mustika itu. Mustika itu berwarna putih seperti mutiara. Kakeknya memperlihatkan kepadanya ketika ia masih berumur sepuluh tahun. Belum tahu benar apa fungsi dari benda yang ditunjukkan kakeknya itu kepadanya. Bahkan setelah rumah sang kakek dibongkar untuk dibangun rumah yang baru, tiada sama sekali jejak mustika itu berada.

 

Pukul 17.45 akhirnya tim sampai juga di puncak Gunung Kendil. Tiada yang tampak istimewa jika dilihat dari petilasan ini. Namun Ki Sabrang Alam benar-benar merasakan energi yang cukup besar di sekitarnya. Seolah ada medan magnet yang membuat Ki Sabrang Alam penasaran.

Sehabis magrib, Pak Geni memimpin rombongan untuk bersilaturahmi dengan pemiik petilasan. Di puncak Gunung Kendil ini hanya ada dua buah pondokan. Satu tempat petilasan tersebut yang berada tepat di belakang batu kendil. Batu besar yang menyerupai kendil (tempat untuk menanak nasi dari tanah liat yang digunakan oleh orang kuno). Satu pondokan lagi di sebelah atas. Untuk mencapainya harus melewati tangga dari batu setinggi dua meter.  

 

Pak Geni membuka upacara dengan sebuah salam dan bacaan wasilah. Kemudian membakar kemenyan arab yang baunya memenuhi seluruh ruangan. Setelah beberapa menit membaca bacaan tahlil, beliau mempersilakan Ki Sabrang Alam untuk bersilaturahim langsung dengan sang pemilik petilasan. Ki Sabrang Alam pun memulai melakukan ritual dengan melakukan pemusatan energi. Setelah beberapa saat melakukan kontemplasi dengan alam batin, ia merasakan sesuatu pancaran energi yang besar. Energi tersebut datangnya justru berasal dari luar pondokan rombongan berada. Energi tersebut berasal dari arah barat daya.

 

Karena dirasa hari masih terlalu dini untuk melakukan ritual. Ki Sabrang Alam menunda sejenak ritualnya. Sekitar pukul 20.30 Pak Geni pamit kepada rombongan untuk kembali ke rumah. Tak lupa rombongan sekali lagi mengucapkan terima kasih yang begitu banyak kepada Pak Geni karena telah menyertai hingga ke puncak.  Sebelum berpisah dengan rombongan Pak Geni memberi sebuah pesan.

 

 “Jika adik-adik nanti bertemu dengan sosok tambun bertubuh pendek yang tiba-tiba muncul di hadapan, maka jangan takut, itu tandanya hajat adik-adik akan dibantu”, Pak Geni kemudian pamit. Usai menyalakan senternya. Ia pun hilang ditelan kegelapan malam yang begitu pekat.

 

Pukul 01.30 udara begitu tenang. Beberapa anggota dari rombongan ada yang sudah terlelap. Ki Sabrang Alam masih terjaga sebab ia merasa ada sesuatu yang akan menemuinya. Entah itu apa atau entah siapa. Dalam kegelapan malam itu Ki Sabrang Alam bersemedi. Memusatkan konsentrasinya.  Berusaha menyerap dan mendeteksi energi yang ada di sekitarnya. Beberapa menit setelah berhasil berkonsentrasi ia dikejutkan oleh sosok yang persis seperti diceritakan Pak Geni. Pendek dan tambun. Karena sekeliling yang begitu gelap ia tidak bisa melihat begitu jelas wajah penampakan ini.

 

Makhluk ini pun memberi isyarat kepada Ki Sabrang Alam mengambil dua genggam tanah dari petilasan itu untuk dibawa pulang. Semula Ki Sabrang Alam tak begitu paham benar maksud dari sosok yang memperkenalkan dirinya sebagai khodam Mustika Ki Badranaya ini. Ki Sabrang Alam pun membungkus dua genggam tanah sesuai permintaan sosok itu.

 

Sepulangnya dari Gunung Kendil, Ki Sabrang Alam mencari tahu maksud dari sosok ghaib itu. Ia memang merasakan ada pancaran energi yang kuat dar tanah yang ia dapatkan itu. Ia pun kembali bermeditasi. Menarik energi alam agar menyatu dengan dirinya. Ki Sabrang Alam meletakkan bungkusan tanah dari Gunung Kendil itu di atas secarik kain mori putih. Beberapa menit setelah ia mengumpulkan energi alam ke dalam dirinya. Muncul cahaya putih dari dalam gundukan tanah itu. Cahaya tersebut ternyata berasal dari sebuah mustika berwarna putih.

 

Ki Sabrang Alam pun teringat pada cerita Pak Geni mengenai mustika yang pernah dimiliki kakeknya di masa silam. Pada kesempatan lain, Ki Sabrang Alam bersilaturahim ke kediaman Pak Geni. Ia menunjukkan mutiara itu kepada Pak Geni dan bermaksud mengembalikan mutiara itu kepada keluarga Pak Geni. Akan tetapi Pak Geni menolak pemberian Ki Sabrang Alam itu. Pak Geni tahu benar bahwa orang yang mendapati mustika itu adalah orang-orang yang benar-benar cocok dengan khodam mutiara Ki Badranaya. Oleh karenanya Pak Geni menolak dengan halus pemberian Ki Sabrang Alam itu.

 

Sampai saat ini mustika itu masih disimpan Ki Sabrang Alam di tempatnya. Ia akan sangat bahagia sekali jika suatu saat mustika itu menemukan orang yang cocok. Tentunya untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan energi mustika itu untuk kebaikan.