Antara Khodam & Energi Alam

Artikel » Antara Khodam & Energi Alam

Di dalam sebuah mustika bertuah ada dua kemungkinan sumber kekuatannya. Sumber kekuatan tersebut bisa jadi berasal dari energi alam. Boleh jadi pula berasal dari kekuatan khodam yang bersemayam di dalam mustika tersebut. Berikut akan kami uraikan mengenai kekuatan mustika yang bersumber dari dua kekuatan tersebut.

 

Apa itu energi alam?

Energi alami ialah energi yang secara alami terbentuk oleh alam.  Energi alam atau energi natural ini sudah ada sejak alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan. Bahkan bisa dikatakan energi alam adalah energi yang pertama kali diciptakan Tuhan. Energi ini sebenarnya bisa diakses atau bisa dimanfaatkan oleh siapapun. Hanya, tidak sembarang orang mengetahui aktivasi energi alam ini.

 

Kita tahu bahwa alam semesta ini begitu luasnya. Sudah pasti energi yang dihasilkan pun melimpah. Banyak  yang belum tahu benar bahwa alam juga terkadang menghimpun energinya pada suatu benda. Misalnya pada benda-benda bertuah yang secara alami menghimpun ion-ion positif. Nah, melalui benda-benda yang bermuatan ion positif inilah bisa dimanfaatkan untuk segala macam kebutuhan manusia.

 

Lalu di benak kita akan muncul pertanyaan, apakah benar benda-benda yang di dalamnya telah terhimpun energi alam itu bisa dimanfaatkan? Jawabannya, tentu saja bisa. Dan sangat bisa. Ambil saja perumpamaan untuk pengobatan. Banyak energi dari benda-benda alam yang bisa dimanfaatkan untuk kesehatan tubuh kita. Di dalam tubuh orang yang sakit terdapat struktur atom yang tidak tersusun secara benar.  Maka struktur yang salah itu bisa disebut juga dengan kerusakan.

 

Kerusakan yang disebabkan struktur yang tidak benar itu bisa diperbaiki. Yaitu dengan adanya energi yang masuk dan ada elemen lain untuk menggantikan elemen yang rusak itu. Caranya, dengan mustika alam yang di dalamnya telah terhimpun ion dan atom untuk memperbaiki kerusakan jaringan ini. Cara kerjanya bisa diibaratkan dengan sebuah medan magnet yang mampu menata kembali jaringan itu. Selain itu juga bisa mengganti atau dengan memperbaruinya.

 

Mustika alam yang terbentuk dari energi air bisa dimanfaatkan untuk relaksasi dan untuk memancarkan aura seseorang. Pola kerjanya agak sama dengan energi alami yang digunakan untuk pengobatan. Selain mengganti atom yang rusak, mustika dari energi air mampu membuka cakra manusia. Cakra adalah pintu energi manusia. Cakra tidak terlihat dalam tubuh fisik. Jika tubuh manusia dibedah, anda tidak akan menemukan di mana letak cakra dengan mata kosong. Demikian terjadi karena cakra letaknya ada pada tubuh bioplasmik manusia.

 

Wujud dari tubuh bioplasmik manusia ialah semacam cetakan tubuh fisik manusia, yang memang benar-benar menyerupai tubuh fisik. Seperti ada kepala, lengan, kaki, badan, dan sebagainya. Disebut bio karena ia berarti “hidup”, dan plasmik berasal dari istilah yang berarti  “bersifat plasma”. Plasma disini berbeda artian dengan plasma darah. Plasma merupakan istilah untuk menyebut bahan keempat dalam pembentukan suatu unsur fisika, selain padat, cair, dan gas. Wujud dari tubuh bioplasmik itulah yang muncul ke permukaan tubuh fisik manusia, dan kemudian disebut dengan aura.

 

Cakra ini menghasilkan cahaya yang berbeda-beda tergantung dari letaknya. Dari warna cakra inilah yang sering disebut dengan pancaran aura. Pancaran aura merepresentasikan sifat, sikap, dan karakter seseorang. Merah misalnya, mempunyai sifat survival dan gaya hidup yang mengutamakan fisik. Hijau mempunyai sifat mencintai orang lain, juga mempunyai kekuatan alami untuk penyembuhan. Masih banyak lagi yang lainnya.

 

Lalu apakah cakra bisa dilihat manusia? Jawabannya bisa. Tetapi tidak semua manusia bisa melihat cakra. Hanya orang-orang tertentu yang sudah terbiasa menyatukan aliran energi dalam dirinya dengan alam yang bisa melihat cakra. Orang-orang waskita yang sering melakukan semedi atau reiki seperti Ki Sabrang Alam mampu melihat cakra yang ada di dalam tubuh orang lain. Bahkan beliau bisa melihat pancaran energi yang ada di dalam suatu benda.

 

Kita kembali kepada pembahasan energi alam. Pada intinya energi alam itu memang ada. Bahkan sangat banyak. Ia mempunyai banyak manfaat untuk berbagai kebutuhan. Energi alam ini biasanya terhimpun dan bersemayam dalam sebuah benda. Umumnya pada mustika. Mustika yang memiliki energi alam ini digunakan untuk membantu memenuhi hajat sang pemilik mustika. Dari pengobatan, penangkal santet, penangkal jin dan roh jahat, memancarkan aura sang pemegang, dan masih banyak lagi kegunaan dari mustika bertuah dari energi alam ini.

 

Lalu, Apa itu khodam?

Khodam sangat erat kaitannya dengan kehidupan non-fisik. Manusia hidup di dunia ini sebenarnya berdampingan dengan makhluk lain yang berbeda dimensi waktu dan ruang. Bahkan baru-baru ini sering terjadi fenomena-fenomena yang tidak bisa dirasio oleh akal pikiran.

 

Khodam merupakan makhluk ciptaan Allah yang dari bangsa gaib yang bertugas sebagai penjaga, pelindung, pembantu, atau pengawal manusia ke mana pun manusia itu pergi. Khodam adalah makhluk yang penurut pada sang penjaganya. Artinya, khodam akan melakukan reaksi jika sang tuan atau keeper-nya mempunyai kehendak tertentu sesuai kebutuhannya. Karena tugas manusia di bumi ini sebagai khalifah maka khodam ini bisa dimanfaatkan untuk hajat manusia. Asalkan hajat itu tidak merugikan orang lain dan tidak menyimpang dari jalan Allah.

 

Kata “khodam” merupakan jamak dari kata “khodam” dari bahasa Ara yang berarti “pembantu”. Khodam juga bisa dibaratkan sebagai pendamping yang selalu taat. Khodam ini adalah cermin dari orang yang dijaganya. Dalam ilmu spiritual Jawa Khodam ini juga disebut dengan “perewangan”. Perewangan bisa berada di manapun majikannya berada. Juga bisa menempati benda-benda tertentu yang memang disediakan untuknya.

 

Tidak semua manusia bisa melihat khodam. ia hanya bisa dilihat orang tertentu yang telah mencapai tingkatan batin tertinggi. Namun setiap manusia bisa memanfaatkan khodam ini untuk kepentingannya. Sekali lagi, asalkan untuk hal-hal yang tidak melenceng adari norma-norama yang telah ada di msyarakat.

 

Mengenai khodam ini pun termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an dalam Surat Ar-Ra’d (11), yang berbunyi:

“Bagi manusia ada penjaga-penjaga yang selalu mengikutinya, di muka dan di belakangnya, menjaga manusia dari apa yang sudah ditetapkan Allah baginya. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubahnya sendiri”.

 

Khodam-khodam ini seringkali bersemayam di benda-benda yang mereka sukai. Misalnya batu bertuah atau batu mustika. Namun keberadaan benda-benda yang bersemayam khodam ini kebanyakan tidak bisa didapatkan manusia dari dunia fisik. Manusia yang sudah mencapai spiritualitas tinggi saja yang mampu mendapatkan benda berkhodam ini. Sebab benda atau mustika yang berkhodam ini hanya berada di alam gaib.

 

Untuk mendapatkannya pun harus dengan syarat-syarat tertentu sesuai dengan syarat yang diajukan para khodam. Syarat yang seringkali diajukan pun tidak melenceng dari jalur agama. Apabila syarat yang diajukan menjauh dari norma agama, sudah bisa dipastikan yang meminta itu adalah jin kafir atau setan yang hendak menyesatkan.

 

Atau sering pula, sang spiritualis yang akan menarik mstika berkhodam ini harus berkelahi secara gaib dengan sang khodam. Hal ini terjadi karena adanya kesalahpahaman dari sang khodam. Khodam-khodam itu hendak melindungi diri. Mengira maksud dari sang spiritualis yang hendak menguasai khodam itu untuk hal buruk. Tetapi biasanya setelah khodam bisa dikalahkan maka mustika itu bisa dikuasai dan khodam itu pun tunduk.

 

Mustika-mustika yang berada di tangan Ki Sabrang Alam adalah mustika yang kekuatannya berasal dari dua sumber kekuatan itu. Kekuatan energi alam bisa berwujud mustika yang berasal dari bumi, permata, dari hewan, tumbuhan, atau juga dari fosil dari hewan bertuah yang telah terbentuk selama ribuan atau bahkan jutaan tahun lamanya. Sedangkan mustika yang mempunyai kekuatan khodam didapatkan Ki Sabrang Alam dari penarikan-penarikan gaib. Melalui penglihatan batinnya Ki Sabrang Alam mampu mendeteksi keberadaan mustika itu. Di tempat-tempat yang tidak dikira oleh manusia lain sebelumnya.